Wakil menteri energi dan sumber daya mineral Wijajono Partowidagdo meninggal dunia ketika mendaki gunung tambora, nusa tenggara barat, sabtu 21 april 2012 kemarin.
Akadesi yang hobi mendaki gunung dan rendah hati ini memiliki pemikiran menggenai pengelolaan energi di Indonesia. Menurut Widjajono, ada 5 kesalahan persepsi mengenai enaergi di Indonesia.
1. indonesia adalah negara yang kaya minyak, padahal tidak. "Kita lebih banyak memiliki energi lain, seperti batu bara, gas, CBM (coal bed methane), shale gas, panas bumi, air, BBN (bahan bakar nabati), dan sebagainya, "kata Widjajono dalam surat elektroniknya kepada tempo, 8 april 2012.
Cadangan terbukti minyak Indonesia tinggal 3,7 barel. "Justru kita lebih banyak memiliki energi nonminyak," ujarnya dalam e-mail. Ini terbukti cadangan hanya 0,3% dunia. Dia membandingkan dengan gas bumi yang cadangannya terbukti 112,4 TSCF dan batu bara 17,8 ton.
2. Harga bahan bakar minyak harus murah sekali tanpa berpikir bahwa hal ini menyebabkan terkurasnya dana pemerintah untuk subsidi harga BBM. Menurut Widjajono, ketergantungan terhadap BBM yang berkelanjutan dan impor minyak menyebabkan makin sulitnya energi lain berkembang.
Tahun 2011, Indonesia memproduksi minyak 902 ribu barel/hari, gas 1.5 juta barel ekuivalen/hari,, dan batu bara 3,4 juta barel ekuivalen/hari. "Sebagai negara importir minyak dan tidak memiliki cadangan minyak yang banyak, terbukti tidak bijaksana apabila mengikuti harga BBM murah di negara-negara yang cadangan minyaknya melimpah, "ujarnya.
3. Investor akan datang dengan sendirinya tanpa perlu bersikap bersahabat dan memberikan iklim investasi yang baik, padahal tidak.
Supaya investor datang ke Indonesia, menurut Widjajono, perlu perbaikan sistem fiskal, meningkatkan kualitas pelelangan dan informasi wilayah kerja yang ditawarkan, perbaikan regulasi dan birokrasi, dan kualitas aturan hukum.
4. Peningkatan kemampuan nasional akan terjadi dengan sendirinya tanpa berpihak kepada pemerintah, padahal tidak. Menurut dia, ini bisa terjadi apabila berpihak kepada pemerintah.
Misalnya untuk kontrak-kontrak pengelolaan sumber daya energi yang sudah habis, maka pengelolaannya diutamakan untuk perusahaan nasional dengan mempertimbangkan program kerja, kemampuan teknis, dan keuangan. "Tidak menutup kemungkinan tetap bekerja sama dengan operator sebelumnya," kata Widjajono.
5. Indonesia diuntungkan dengan kenaikan harga minyak dunia, padahal tidak. Ia membandingkan produksi minyak dengan harga minyak dan mengaitkannya dengan impor minyak mentah, justru menunjukkan defisit ketika ada kenaikan harga minyak dunia. Dengan impor minyak sebesar 770 ribu barel/hari, pemerintah justru defisit Rp 74 triliun/tahun, dengan APBN-P harga minyak US$ 105/barel.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar