Bukan rahasia lagi, orang tua harus memperhatikan cara mereka berkomunikasi dengan anak-anak mereka. Apa yang kita katakan dan cara kita mengetakan adalah masalah penting. Cara komunikasi orang tua akan memberi dampak pada hubungan orang tua dengan anak dalam jangka panjang.
Kalimat sederhana yang keluar dari mulut orang tua saat sedang frustasi dapat berdampak besar.
"Kata-kata bisa menyakitkan dan tidak bisa ditarik ulang, jadi berhati-hatilah dalam merbicara."
"Kita manusia. Kehidupan kita gila-gilaan dan kadang tidak memberikan waktu beristirahat dan berfikir kepada diri sendiri."
"Hanya berhati-hatilah dan tanggung jawab dengan siapapun kita berbicara."
Berikut ini 5 hal yang tidak boleh diucapkan orang tua kepada anak mereka :
"Aku Tidak Peduli."
Anak kecil senang bercerita segala sesuatu. Tentang pembicaraan mereka dan teman-temannya, bentuk awan yang mereka rasa mirip dengan ular laut, alasan mereka menekan seluruh isi pasta gigi ke dalam bak mandi, dll.
Tetap kadang orang tua tidak ingin mendengarkan mereka. Jangan pernah mengatakan anda tidak peduli dengan cerita mereka. Itu akan membuat anak-anak merasa tidak penting dam menghilangkan rasa percaya diri.
Saran : Beritahu lah anak anda bahwa masalah itu bisa dibahas di lain waktu, ketika anda dapat fokus pada pembicaraan sang anak. Tetapi jangan ingkar janji untuk membahasnya.
"Kamu Kan Sudah Besar"
Putra/putri anda berusia 7 tahun tapi masih bertingkah selayaknya anak berumur 3 tahun. Jangan pernah menyalahkan tingkah nya sembari mengatakan "kamu kan sudah besar!" ini akan membuat anak-anak merasa dikritik padahal mereka bisa saja sedang punya masalah dan butuh bantuan untuk menyelesaikannya.
Saran : "ketika anda hendak bereaksi, ambillah jeda waktu sebentar." Pikirkan matang-matang dampak perkataan anda, jadi bukan asal reaksi spontan. Jeda membantu menurunkan adrenalin sehingga otak bisa berfikir tanpa emosi.
"Minta Maaf"
Anak anda merebut mainan temannya dan membuatnya menangis. Anda langsung memerintahkan sang anak untuk meminta maaf atas tindakannya. Anda memang bermaksud mulia, tetapi memaksa anak untuk meminta maaf tidak mengajari mereka kemampuan sosial,
Anak kecil tidak langsung mengerti kenapa meraka harus meminta maaf. Bila selalu disuruh, mereka bisa saja makin lambat memahami alasan meminta maaf bila telah melakukan tindakan buruk.
Saran : Minta maaflah anda kepada anak kecil yang dibuat menangis oleh anak anda, sehingga pada saat bersamaan anda memberikan dia contoh bagus kelakuan yang ingin ditanamkan.
"Masa Tidak Bisa Juga"
Anda mengajari anak menangkap bola lima kali berturut-turut, dan dia belum mahir juga. Atau, ketika belajar soal matematika, dia tidak kunjung paham. Anda pun langsung berkata "masak tidak bisa juga?" komentar ini akan menjatuhkan mental mereka.
Sebab, sebagaimana dikatakan pakar pembelajaran Jill Laurean, anak-anak akan menangkap pertanyaan itu dengan berbeda. Mereka akan mengira anda bertanya "kenapa tidak bisa juga ? Apa yang salah dengan kamu sehingga tidak bisa ?"
Saran : Ambil waktu istirahat. Jika anda sudah tahu cara lain mengajari anak mengenai sesuatu, berhentilah. Lanjutkan pelajaran ketika anda sudah siap untuk mencobanya lagi, mungkin setelah mencari pendekatan lain untuk mengajar apa pun yang sedang dipelajari anak anda.
"Ditinggal Ya"
Anak anda menolak meninggalkan toko mainan atau taman, sementara anda telat janjian. Jadi anda memberikan ultimatum untuk menakut-nakuti dia dengan kata "ditinggal ya" untuk anak yang masih kecil, ketakutan ditinggal orang tua adalah sesuatu yang sangat nyata. Tapi apa yang terjadi saat ancaman tidak berhasil ? Anak dengan cepat belajar kalau ayah dan ibu nya memberikan ancaman kosong.
Saran : Jangan bilang kepada anak bahwa anda akan meninggalkan mereka. Sebaiknya, buat perjanjian dengan anak anda sebelum berangkat dari rumah, contoh : "dari tempat A ke tempat B,,ya. trus dari B ke C.ok!!!"